| Benchmark Agustus 2006 |
Perekonomian Indonesia Laju lnflasi pada bulan Juli 2006 tercatat sebesar 0,45%, sama persis dengan Juni 2006. Secara kumulatif inflasi sampai dengan Juli 2006 sebesar 3,33%, sedangkan inflasi year on year masih tinggi sebesar 15,15%. Inflasi yang terjadi pada bulan Juli 2006 menunjukkan tidak adanya lonjakan harga yang berarti sepanjang Juli 2006. Dengan laju inflasi Januari-Juli 2006 sebesar 3,33%, target inflasi 8% yang diperkirakan banyak pihak semakin mendekati kenyataan. Sepanjang situasi normal dan ditambah faktor lebaran dan natal yang diperkirakan mendorong inflasi tinggi, target inflasi sebesar 8% diperkirakan akan tercapai. Setelah mencatat angka tertinggi pada pada akhir Mei 2006 mencapai 44,16 US$ miliar Cadangan devisa Indonesia pada bulan Juni turun menjadi US$ 40,1 miliar, namun pada bulan Juli naik kembali menjadi sekitar US$ 41,13miliar . Hal ini disebabkan pembayaran utang pemerintah yang dipercepat. Peningkatan cadangan devisa Indonesia sejak Oktober 2005 disebabkan karena derasnya aliran dana yang masuk ke Indonesia dan berkurangnya subsidi BBM. Posisi cadangan tersebut merupakan angka terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Peningkatan cadangan devisa disebabkan pula oleh surplus perdagangan dan penerbitan Global Bond oleh pemerintah RI sehingga meningkatkan cadangan devisa.
|
| Return Reksadana & Return Portflio Per 1 Agustus 2006 |
Reksadana Selama tahun 2006 pertumbuhan NAB Reksadana sangat signifikan. Akhir tahun 2005 NAB Reksadana sebesar 29,41 triliun. Pada Januari dan Februari 2006 NAB Reksadana sempat turun menjadi 27,14 triliun. Bulan Februari sampai Mei 2006 NAB Reksadana mengalami pertumbuhan, hingga bulan Juli 2006 NAB Reksadana sebesar 35,28 triliun rupiah bertumbuh 19,96% dibanding akhir 2005. Pertumbuhan NAB Reksadana didorong oleh meningkatnya dana kelolaan Reksadana Terproteksi. Hingga akhir tahun 2005 Reksadana Terproteksi sebesar 3 triliun rupiah, pada Juli 2006 Reksadana Terproteksi mengelola 9,33 triliun atau mengalami pertumbuhan 200,11%. Peningkatan Reksadana Terproteksi dikarenakan investor tertarik untuk menanamkamuangnya pada reksadana ini. Penurunan suku bunga membuat tingkat pengembalian reksadana terproteksi lebih menarik daripada investor menaruh dananya di deposito maupun SBI. |
Panin Dana Optima memberikan tingkat pengembalian tertinggi pada reksadana pendapatan tetap, Panin Dana Optima memberikan return 43,36%. Di tempat kedua Reksadana ORI memberikan return 9,99%, diikuti Yudistira memberikan return sebesar 6,64%. Secara keseluruhan reksadana pendapatan tetap memberikan return yang cukup baik, hal ini disebabkan membaiknya pasar obligasi akibat ekspektasi penurunan tingkat suku bunga yang berkelanjutan hingga akhir tahun. Harga obbligasi mengalami kenikan yang signifikan akibat banyaknya permintaan, sedangkan supplai yang ada di pasar sangat terbatas. |
Fluktuasi bursa saham selama bulan Juli 2006, membuat beberapa reksadana saham menunjukkan kemampuannya dalam mengelola portfolio saham. Makinta Mantap memberikan return terbesar selama bulan Juli sebesar 7,76%. Reksadana Dana Ekuitas Prima ditempat kedua memberikan imbal hasil 6,03%. Di tempat ketiga BIG Nusanara memberikan imbal hasil sebesar 5,98%. Pada kondisi pasar yang fluktuatif para manajer investasi berpeluang memaksimalkan returnnya, namun dengan resiko yang harus dapat di perhitungkan. Manajer investasi yang handal akan dapat mengalahkan Benchmark-nya. |
Imbal hasil terbesar pada kategori reksadana campuran diberikan oleh Bahana Dana Selaras sebesar 6,75%. Di tempat kedua Bahana Kombinasi arjuna memberikan return sebesar 5,66%. Natpac Dana Tumbuh menempati posisi ketiga dengan return sebesar 5,39%. Kinerja reksadana campuran selama bulan Juli secara keseluruhan memberikan imbal hasil yang positif. Namun, kemampuan manajer investasi dapat dilihat dari imbal hasil yang dihasilkannya. |
Imbal hasil terbesar pada kategori reksadana campuran diberikan oleh Reksa Dana Makinta Fleksi sebesar 3.13%. Di tempat kedua Dhanawibawa Progresif memberikan return sebesar 1.63%. Reksadana Panin dana Unggulan menempati posisi ketiga dengan return sebesar 1,31%. Penuruan pada bursa saham turut memberikan dampak negatif pada reksadana campuran. Tetapi, karena saham bukan merupakan komposisi portfolio terbesar, penurunan imbal hasil yang diberikan pada reksadana campuran tidak seburuk reksadana saham.
|
Benchmark
Selama beberapa tahun terakhir pengelolaan portfolio bertumbuh dan semakin marak di Indonesia. Pilihan instrumen investasi pun semakin beragam. Dalam membuat atau membentuk suatu portfolio mutlak diperlukan pengetahuan dan keahlian yang memadai terutama mengenai investasi dan ekonomi makro. Hal ini penting oleh karena harus memenuhi karakteristik dan keinginan investor serta antisipasi terhadap ketidakpastian. Setelah itu, hasil atau pengembalian portfolio tersebut harus dibandingkan dengan tolok ukur (benchmark) untuk mengetahui kinerja portfolio tersebut. Penentuan tolok ukur portfolio menjadi permasalahan yang dialami para pengelola portfolio dan investor di Indonesia sehingga sulit untuk mengetahui apakah kinerja suatu portofolio outperform atau underperform. Berdasarkan penelitian yang dilakukan FBI per 1 Agustus 2006, return instrumen investasi satu bulan terakhir mengalami peningkatan, emas memberikan return terbesar yakni sebesar 4,17%, yang diakibatkan melonjaknya harga emas dunia. Saham mengikuti di tempat kedua dengan memberikan return sebesar 3,16%. Obligasi memberikan return positif sebesar 1,69%, pasar uang dan deposito memiliki return positif sebesar 0,72% dan 0.62%. Obligasi memberikan return positif karena pada bulan Juli harga obligasi kembali naik. Para investor optimisme dengan penurunan suku bunga.. Sedangkan US Dolar memiliki return negatif sebesar -2,31% karena investor banyak menjual US Dolar dan membeli intrumen investasi yang ada di Indonesia. Untuk periode yang lebih panjang seperti lima tahun obligasi memberikan return tertinggi, mencapai 348,07%, diikuti saham 204,37%, pasar uang 70,01%, emas 66,67%, deposito 56,71%, dan property 55,43%. Sedangkan US Dolar memberikan return negatif sebesar -4,37%. Tingginya return obligasi pada jangka lima tahun, karena periode tahun 2001-2002 terjadi kenaikan tingkat suku bunga yang menyebabkan harga obligasi turun. Sehingga ketika suku bunga lebih rendah dari tahun 2001 harga obligasi kembali naik. |