| Benchmark Oktober 2006 |
Perekonomian Indonesia Memasuki bulan puasa, tingkat laju inflasi selama bulan September meraih angka yang menggembirakan, berdasarkan laporan BPS angka inflasi bulan September sebesar 0.38% yang berarti secara kumulatif besar inflasi Januari-September sebesar 4.06%. Dari hasil ini kemungkinan tercapainya target inflasi pemerintah 2006 sebesar 8% akan semakin besar, tingkat inflasi bulan Oktober-Desember 2006 diprediksi tidak akan mencapai 4%. Bahkan kemungkinan mencapai 3% cukup besar, jika ini terjadi berarti tingkat inflasi 2006 sebesar 7% merupakan sebuah prestasi yang sangat bagus untuk perekonomian Indonesia di tengah kondisi yang ada. Cadangan devisa pada bulan September kembali mengalami peningkatan, walapun peningkatannya lebih kecil dibanding peningkatan bulan lalu namun, hal ini memberikan tambahan sentimen positif terhadap pasar yang semakin memperkuat keyakinan akan membaiknya fundamental makro perekonomian. Sementara untuk bulan mendatang mengingat rencana pembayaran utang terhadap IMF maka akan terjadi pengurangan cadangan devisa Negara sekitar US $3.2 Miliar. Namun penurunan drastis cadangan devisa ini tidak akan mempengaruhi sentimen pasar Dengan angka inflasi 4.06% (Januari-September) membuat dorongan Bank Indonesia untuk menurunkan BI Rate akan semakin besar. Dalam rapat Dewan Gubernur tanggal 5 oktober akan ditentukan besaran penurunan BI rate. Besaran penurunan 50 basis point seperti yang dihasilkan rapat bulan lalu kemungkinan akan terjadi lagi. Hal ini disebabkan kuatnya keinginan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan menggerakkan industri manufaktur dan properti tanah air melalui penurunan bunga kredit yang nanti akan turun akibat imbas penurunan BI rate. Spread 5.75% dengan Fed Rate masih cukup kuat menahan terjadinya capital outflow apalagi dengan kondisi perekonomian Indonesia yang sedang berada pada up trend besar kemungkinan terjadinya penambahan aliran modal yang masuk. |
Memasuki awal September ketakutan akan kembali bergejolaknya rupiah akibat kebijakan BI yang menurunkan SBI 50 basis poin ke 11,25 ternyata tidak terbukti. Memasuki minggu pertama setelah penurunan SBI 0.50 basis point rupiah ternyata cukup stabil. Sepanjang bulan September rupiah tertinggi berada pada level 9.245 (25/09) dan terendah pada level 9.083 (04/09). Rencana penurunan kembali SBI sebesar 0.50 basis point oleh BI yang ditentukan nantinya pada rapat 5 Oktober hanya akan memberikan gejolak yang tidak terlalu besar diperkirakan nilai tukar rupiah terhadap US $ untuk bulan oktober berkisar 9.300-9.400. Dalam 1 bulan ke depan kurs rupiah akan banyak dipengaruhi oleh pasar regional dimana tekanan terhadap mata uang asia masih akan berlanjut. Namun, dari segi fundamental rupiah masih cukup kuat. Pergerakan indeks saham selama bulan September 2006 mencatat kenaikan 7.22% yang ditutup pada level 1534,61. Kenaikan ini banyak dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti tingkat inflasi yang terkendali, kenaikan cadangan devisa negara dan terjadinya surplus neraca perdagangan. Secara trend indeks bulan oktober akan terus berada pada up trend hal ini disebabkan oleh faktor inflasi yang masih terkendali, perkiraan hasil kinerja emiten quartal tiga yang diprediksi akan mengalami peningkatan dan kondisi stabilitas keamanan dan politik selama bulan oktober yang baik. Hal yang akan menghambat datang dari fluktuasi kurs rupiah yang akan bergejolak akibat rencana penurunan BI rate namun dampak ini hanya bersifat kejutan (temporary) pergerakan IHSG sepanjang Oktober akan berada pada kisaran 1.535-1.560. |
Volatilitas Volatilitas merupakan gambaran dari pergerakan instrumen yang diteliti. Semakin besar volatilitas maka semakin besar kemungkingan investor mendapatkan keuntungan. Biasanya, pasar yang tidak efisien mempunyai volatilitas yang cukup tinggi sehingga Fund Manager Asing di pasar yang maju selalu datang ke pasar yang tidak efisien tersebut untuk mendapatkan kapital gain yang tinggi untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi bila diinvestasikan hanya di pasar yang maju tersebut. Grafik berikut ini memperlihatkan Volatilitas bursa saham, tingkat bunga SBI dan Deposito satu bulan dan valuta asing dalam Dollar. |
| Return Reksadana & Return Portflio Per 1 Oktober 2006 |
|
Reksadana
Selama kuartal ke-2 tahun 2006 pertumbuhan NAB Reksadana sangat stabil 6%-7%. Dengan dana kelolaan terbesar berasal dari reksadana pendapatan tetap sebesar 40% dari total NAB. Pada bulan Oktober, NAB reksadana mengalami pertumbuhan 5.179% dimana proporsi terbesar berasal dari dana kelolaan reksadana pendapatan tetap. Hal lain terlihat bahwa minat masyarakat terhadap produk reksadana terproteksi semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dari terjadi pertumbuhan dana kelolaan reksadana terproteksi yang cukup signifikan dalam satu semester ini.Hal ini menandakan bahwa masyarakat yang berinvestasi pada reksadana saat ini lebih memilih produk yang aman atau mengutamakan resiko yang kecil. Namun, melihat dari kondisi up trend pasar saham sekarang diperkirakan akan terjadi peningkatan dana kelolaan reksadana saham . |
Secara rata-rata terjadi peningkatan return untuk reksadana pendapatan tetap jika pada bulan September return bulan tertingi sebesar 6.29% maka untuk bulan ini return tertinggi sebesar 8.02% yang dimiliki reksadana pendapatan tetap Indovest Dana Obligasi. Peringkat kedua ditempati oleh Bahana Dana Arjuna dan peringkat ke-10 ditempati oleh Mahanusa Pendapatan Tetap Negara. Peningkatan ini masih berasal dari penurunan tingkat suku bunga yang membuat pasar obligsi mengalami up trend dan jika suku bunga akan terus menurun maka reksadana pendapatan tetap akan menjadi pilihan yang tepat bagi para investor yang menyukai pendapata tetap untuk berinvestasi |
|
Peningkatan indeks bursa saham selama bulan September 2006, membuat beberapa reksadana saham menunjukkan kemampuannya dalam mengelola portfolio saham. Nikko Saham Nusantara memberikan imbal hasil terbesar selama bulan September sebesar 11.86%. Makinta Mantap di tempat kedua memberikan imbal hasil 10.44%. Di tempat ketiga Saham BUMN memberikan imbal hasil sebesar 7.83%. Pada kondisi pasar yang fluktuatif para manajer investasi berpeluang memaksimalkan imbal hasilnya namun, dengan resiko yang harus dapat di perhitungkan. Manajer investasi yang handal akan dapat mengalahkan Benchmark-nya. |
Rata-rata return 10 besar peringkat return reksadana campuran per 1 Oktober lebih rendah dibandingkan bulan lalu. Per 1 Oktober rata-rata return 10 besar peringkat return reksadana campuran pada bulan ini adalah sebesar 5,81% sedangkan pada bulan lalu adalah sebesar 7,33%. Return tertinggi adalah Reksadana Bahana Kombinasi Arjuna dengan return sebesar 6,55%. Peringkat kedua adalah Reksadana Schroder Dana Prestasi dengan return sebesar 6,317%. Republic Balance berada pada peringkat ketiga dengan return sebesar 6,315% yang merupakan berbeda sangat tipis dengan Schroder Dana Prestasi. |
Benchmark Selama beberapa tahun terakhir pengelolaan portfolio bertumbuh dan semakin marak di Indonesia. Pilihan instrumen investasi pun semakin beragam. Dalam membuat atau membentuk suatu portfolio mutlak diperlukan pengetahuan dan keahlian yang memadai terutama mengenai investasi dan ekonomi makro. Hal ini penting oleh karena harus memenuhi karakteristik dan keinginan investor serta antisipasi terhadap ketidakpastian. Setelah itu, hasil atau pengembalian portfolio tersebut harus dibandingkan dengan tolok ukur (benchmark) untuk mengetahui kinerja portfolio tersebut. Penentuan tolok ukur portfolio menjadi permasalahan yang dialami para pengelola portfolio dan investor di Indonesia sehingga sulit untuk mengetahui apakah kinerja suatu portofolio outperform atau underperform Berdasarkan penelitian yang dilakukan FBI per 1 Oktober 2006, return instrumen investasi tertinggi untuk investasi jangka pendek masih ditempati instrumen saham dengan return bulanan sebesar 7.22%, return bulan ini mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya. Sampai jangka waktu investasi selama 3 tahun, investasi saham masih memberikan return yang lebih baik dibandingkan dengan intrumen lainnya. Namun untuk investasi 5 tahunan, return obligasi berada pada peringkat pertama dengan return 338.28%. Selama jangka waktu penelitiaan, investasi pada US dollar tertinggi pada jangka waktu 3 tahun namun, return yang diberikan masih sangat kecil. Keberhasilan pemerintah dalam menjaga pergerakan nilai tukar rupiah membuat return investasi USDollat yang dihasilkan sangat kecil. Untuk investasi dalam emas, penurunan harga emas internasional membuat return investasi emas menjadi kecil bahkan secara bulanan dan kuartal invetasi dalam emas memberikan return negatif. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa investasi yang terbaik dari segi return yang dihasilkan adalah investasi pada saham. Dan untuk investasi secara 5 tahunan Obligasi merupakan pilihan yang tepat. Kinerja reksadana jangka panjang menurut jenisnya per september mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya. Return tertinggi dimiliki oleh reksadana jenis saham dengan return 144% dalam 3 tahun atau 495% dalam 5 tahun. Dalam jangka waktu 1 tahun reksadana saham dan pendapatan tetap memberikan return positif,sementara untuk reksadanan campuran jangka waktu 6 bulan dan 1 tahun memberikan return negatif. Terlihat return reksadana saham selalu berada diatas reksadana campuran dan pendapatan tetap bahkan selisihnya untuk return jangka panjang sangat besar. Pertumbuhan return reksadana sahan ini di ikuti dengan pwrtumbuhan total NAB reksadana saham. |