Jakarta , 18 Desember 2008 (15:12)
Perusahaan manufaktur elektronik, PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN), memperkirakan proyeksi penjualannya akan turun 27% pada 2009. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis menjadi pemicu penurunan tersebut.
“Dengan perkiraan kurs Rp 10 ribu per dolar AS pada 2009, penjualan perseroan turun 27% dibandingkan tahun 2008,” kata Sekretaris Perusahaan Sat Nusapersada Rusdiana dalam materi paparan publik ke BEI di Jakarta, Kamis (18/12/2008).
Menurutnya, proyeksi penjualan perseroan pada 2009 akan turun 27% menjadi USD172,158 juta dari sebelumnya USD2,213 juta pada 2088.
Perseroan yang memiliki pasar ekpor utama ke Jepang terkena dampak negative atas resesi yang dialami negara tujuan ekspornya tersebut. Saat ini, perusahaan-perusahaan manufaktur di Jepang memberikan outlook negative untuk 2009. “Penguatan mata uang Yen Jepang juga akan memukul perusahaan,” katanya
Untuk mengantisipasi ekses negatif tersebut, perseroan telah mengambil langkah dan kebijakan dengan menunda pengeluaran belanja modal tetapi tetap mempertimbangkan kesempatan ekspansi serta mengurangi tenaga kerja.
Selain itu, perseroan akan menerapkan strategi pemasaran yang fleksibel guna memperluas jaringan pemasaran dan mempertahankan daya saing. Efisiensi dalam proses produksi dan menekan biaya pengeluaran overhead juga akan diterapkan.
Sampai kuartal III/2008, perseroan mengalami pertumbuhan 33,33%, menjadi Rp1,557 triliun, dari Rp1,168 triliun periode sama 2007. Kenaikan tersebut di sebabkan meningkatnya permintaan pelanggan atas produk perseroan. Hal itu membuat laba bersih perseroan anjlok 74,5%, menjadi Rp14,25 miliar dari Rp55,88 miliar periode sama 2007
“Adapun laba usaha turun sebesar 46,78%, menjadi Rp21,8 miliar, dari Rp41 miliar periode sama 2007,” katanya.
Penurunan perekonomian dunia telah mengakibatkan anjloknya margin perseroan dalam upaya untuk mempertahankan persaingan di dalam industri perakitan elektronik. Hal itu terlihat dari naiknya komposisi pemakaian bahan baku terhadap penjualan dari 81,89% menjadi 84,10%.
Beban usaha mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga menurunnya laba usaha terhadap penjualan dari 3,51% menjadi 1,40 %. Kenaikan beban usaha dikarenakan oleh meningkatnya beban pemasaran serta gaji dan tunjangan.Sebagai upaya untuk menghadapi resiko kenaikan gaji dan tunjangan di masa mendatang, perseroan akan memperluas jaringan usaha dengan menggarap pangsa pasar dan segmen usaha baru. Dengan begitu biaya tetap perunit menurun. |
|